Hati, Psikologi sufi menekankan pentingnya mencerdaskan
hati. Seseorang yang hatinya terbuka akan lebih bijaksana, penuh kasih sayang,
dan lebih pengertian daripada mereka yang hatinya tertutup.
Hati kita meiliki empat lapisan, Tiap lapisan
terhubung dengan salah satu cahaya Allah. Dada ( shadr )—lapisan
luar—terhubung dengan cahaya Islam, hati ( qalb ) terhubung dengan
cahaya iman, hati-lebih-dalam ( fu’âd ) terhubung dengan cahaya
makrifat, sementara inti-hati ( lubb) terhubung dengan cahaya tauhid.
Empat lapisan ini juga berkaitan dengan empat
kedudukan hamba—muslim, mukmin, ahli makrifat, dan ahli tauhid—dan empat
kondisi nafs (jiwa) yang disebutkan dalam Alquran: nafs yang
memerintahkan keburukan ( ammârah bi al-sû’ ), nafs yang suka mencela ( lawwâmah
), nafs yang terilhami ( mulhamah ), dan nafs yang tenteram ( muthma’innah
).
Hati, Psikologi sufi menekankan pentingnya mencerdaskan
hati. Seseorang yang hatinya terbuka akan lebih bijaksana, penuh kasih sayang,
dan lebih pengertian daripada mereka yang hatinya tertutup.
Hati kita meiliki empat lapisan, Tiap lapisan
terhubung dengan salah satu cahaya Allah. Dada ( shadr )—lapisan
luar—terhubung dengan cahaya Islam, hati ( qalb ) terhubung dengan
cahaya iman, hati-lebih-dalam ( fu’âd ) terhubung dengan cahaya
makrifat, sementara inti-hati ( lubb) terhubung dengan cahaya tauhid.
Empat lapisan ini juga berkaitan dengan empat
kedudukan hamba—muslim, mukmin, ahli makrifat, dan ahli tauhid—dan empat
kondisi nafs (jiwa) yang disebutkan dalam Alquran: nafs yang
memerintahkan keburukan ( ammârah bi al-sû’ ), nafs yang suka mencela ( lawwâmah
), nafs yang terilhami ( mulhamah ), dan nafs yang tenteram ( muthma’innah
).
“Istafti qalbak, mintalah fatwa pada hatimu; kebaikan
adalah sesuatu yang membuat hatimu tenang dan keburukan adalah
sesuatu yang membuat hatimu gelisah.” Hadis Nabi.
Hati menurut filosofi jawa disimbulkan oleh
gunungan/kayon/kelir di dalam pagelaran wayang purwa, didalamnya terdapat
gambar empat jenis binatang yang menggambarkan 4 jenis nafsu manusia, keempat
jenis binatang tersebut adalah :
1. Macan (Harimau) : menggambarkan nafsu amarah
"remenipun paben fitenah" (menyukai kepada adu domba, fitnah, dan
sejenisnya).
2. Banteng : menggambarkan nafsu Sufiyah
"remenipun milik sanes kewajibanipun" (menyukai iri dengki,
hasud, tidak suka bila orang lain dapat kenikmatan/kebahagiaan), cenderung suka
keindahan.
3. Kethek (Monyet) : menggambarkan nafsu
Aluamah "remenipun mangontho-ontho kereng donyo artho"
(menyukai dunia dan harta benda).
4. Burung Merak : menggambarkan nafsu
Mutmainnah "remenipun nderek gugon tuhon, bimbing pangiwo,
mundi-mundi sajen-sajen, kuthuk-kuthuk ahli peteng karang sihir, kadiddayan,
kanuragan" (patuh tanpa ditelaah terlebih dahulu, menyembah tetapi
salah arah), sebenarnya nafsu ini cenderung baik tetapi bila berlebihan juga
tetap tidak baik. Contohnya : memberi uang/sodaqoh kepada orang yang kekurangan
itu baik, tetapi ketika semua uangnya diberikan kepada orang yang kekurangan
itu mengakibatkan hidupnya susah/rusak, hal itu akan itu menjadi tidak baik.
Sebagai gambaran orang yang menaiki kereta kuda, keempat nafsu tersebut merupakan kuda penggerak agar kereta dapat berjalan, maka sang kusir harus mampu mengendalikan, mengarahkan kudanya agar dapat mengantarkan kusir/penumpangnya sampai pada tujuan yang sebenarnya yaitu Allah SWT (Illahi anta maksudi waridhoka mathlubi), jangan sampai malah sang kusir yang mengikuti atau malah dikuasai oleh sang kuda. |
||
Gunungan (simbolisasi Hati)
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar